Wikipedia

Hasil penelusuran

Kamis, 19 Februari 2026

FLP Malang Gelar Tarhib Ramadan, Buka Rangkaian Kajian Rutin Ramadan 1447 H

 

Forum Lingkar Pena (FLP) Malang menggelar kegiatan Tarhib Ramadan sebagai pembuka rangkaian Kajian Rutin Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan ini menjadi langkah awal FLP Malang dalam menyambut bulan suci Ramadan dengan persiapan spiritual sekaligus penguatan literasi bagi para anggotanya.

Tarhib Ramadan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan menghadirkan Ustad Abi Thalib, guru sekaligus penulis dari SD Insan Permata Malang, sebagai narasumber. Kegiatan ini digagas oleh Ketua FLP Malang, Intan K. L. Asror, sebagai bentuk ikhtiar bersama agar para anggota siap menjalani Ramadan, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara ruhiyah.

Dalam pemaparannya, Ustad Abi Thalib menyampaikan materi tentang level puasa, hal-hal yang dapat mengurangi bahkan membatalkan pahala puasa, serta pentingnya menghadirkan pesan dakwah dalam setiap karya tulis. Ia mengingatkan para penulis untuk menghindari tulisan yang bersifat memfitnah dan provokatif. Menurutnya, kisah-kisah dalam Al-Qur’an dapat menjadi sumber inspirasi yang kaya untuk diolah menjadi karya fiksi yang mengandung nilai edukatif dan spiritual.

Kegiatan yang berlangsung selama 90 menit ini berjalan khidmat dan interaktif. Para peserta aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan yang dijawab secara lugas oleh narasumber, sehingga materi dapat dipahami dengan baik dan memberi tambahan wawasan bagi peserta.

Melalui kegiatan Tarhib Ramadan ini, FLP Malang berharap rangkaian Kajian Rutin Ramadan dapat menjadi sarana pembinaan ruhiyah dan intelektual bagi para penulis, serta mendorong lahirnya karya-karya yang membawa pesan kebaikan, dakwah, dan kemanusiaan selama bulan suci Ramadan.

Selasa, 18 November 2025

Kelas Kepenulisan 2 FLP Malang Kupas Tuntas Fiksi dan Nonfiksi secara Daring

Malang — Setelah sukses menyelenggarakan Kelas Kepenulisan 1 secara luring di SDIT Insan Permata Malang pada Ahad, 16 November 2025, Forum Lingkar Pena (FLP) Malang kembali melanjutkan rangkaian pelatihan melalui Kelas Kepenulisan 2 yang digelar secara daring pada Senin, 17 November 2025, melalui aplikasi Zoom Meeting.

Pada kelas kedua ini, peserta mendapatkan kesempatan untuk memperdalam dua ranah utama dalam dunia kepenulisan, yakni Fiksi dan Nonfiksi. FLP Malang menghadirkan dua pemateri kompeten di bidangnya, yaitu:

  • Mashdar Zainal, penulis  Nasional berpengalaman, yang membawakan materi Fiksi.

  • Nazlah Hasni, penulis nonfiksi dan penggiat literasi, yang mengisi sesi Nonfiksi.

Dalam sesi Fiksi, Mashdar Zainal mengajak peserta menyelami konsep pembangunan karakter, penguatan konflik, serta teknik menulis cerita pendek yang efektif. Pemateri juga memberikan contoh-contoh karya fiksi yang kuat secara teknik dan emosional, serta membimbing peserta menyusun ide cerita mereka sendiri.

Sementara itu, pada sesi Nonfiksi, Nazlah Hasni memaparkan struktur dasar tulisan nonfiksi, mulai dari menentukan angle, merancang outline, hingga memadukan data dan narasi agar tulisan tetap informatif namun tetap enak dibaca. Peserta juga diajak melakukan latihan membuat paragraf pembuka dan mengkritisi struktur tulisan mereka.

Meski dilakukan secara daring, kelas kedua ini berlangsung interaktif. Peserta aktif berdiskusi, bertanya, dan mengirimkan karya latihan singkat yang langsung mendapat umpan balik dari pemateri.

Kelas kepenulisan ini merupakan bagian dari rangkaian Open Recruitment FLP Malang 2025, yang bertujuan mencetak calon anggota yang tidak hanya mencintai dunia literasi, tetapi juga memiliki keterampilan teknis menulis secara fiksi maupun nonfiksi.


Kelas Kepenulisan 1 FLP Malang Hadirkan Pelatihan Blog dan kreator konten untuk Calon Anggota Baru

 Malang — Forum Lingkar Pena (FLP) Malang menggelar Kelas Kepenulisan 1 sebagai rangkaian kegiatan rekrutmen anggota baru tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung pada Ahad, 16 November 2025, bertempat di SDIT Insan Permata Malang, dengan menghadirkan materi “Blog dan Konten Kreator” yang disambut antusias oleh peserta dari berbagai kalangan.

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari perwakilan pengurus FLP Malang yang menekankan pentingnya literasi digital di era modern. FLP Malang ingin memastikan bahwa kader-kader baru tidak hanya mampu menulis secara konvensional, tetapi juga terampil memanfaatkan platform digital sebagai medium dakwah literasi.

Dalam sesi utama, pemateri menyampaikan langkah-langkah membangun blog yang menarik, cara menulis artikel yang efisien, serta strategi mengembangkan konten kreatif yang relevan dan berkelanjutan. Peserta juga diajak berlatih membuat kerangka artikel dan merancang konsep konten digital yang dapat diunggah ke berbagai platform seperti YouTube, Instagram, dan blog pribadi.

“Penulis masa kini harus adaptif. Blog dan konten kreator bukan sekadar ruang berbagi cerita, tapi juga medium dakwah literasi yang menjangkau lebih banyak orang,” ujar pemateri dalam sesi pemantik.

Selain materi inti, peserta mengikuti sesi diskusi dan praktik langsung yang membantu mereka mengevaluasi kualitas tulisan serta mempelajari teknik dasar optimasi konten agar lebih mudah ditemukan pembaca.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Open Recruitment FLP Malang 2025, yang bertujuan melahirkan penulis-penulis muda berkarakter, produktif, dan berkontribusi bagi perkembangan literasi di Malang Raya. FLP Malang berkomitmen menyediakan ruang belajar yang hangat, progresif, dan mendorong anggota baru untuk terus berkarya.

FLP Malang berharap kegiatan ini dapat menjadi pintu awal lahirnya penulis-penulis inspiratif yang membawa semangat literasi berkeadaban.


Selasa, 17 Desember 2024

Sejarah FLP Malang

.




Awal Berdirinya FLP Malang

Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Malang resmi berdiri pada tanggal 22 November 2000 di Aula Akademi Keperawatan (Akper) yang berlokasi di Jalan Ijen, Kota Malang, yang kini menjadi bagian dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Malang. Kehadiran FLP Malang merupakan respons atas semakin meningkatnya kebutuhan akan ruang kreatif dan pengembangan literasi bagi para penulis muda di Malang Raya.

Pendirian FLP Malang dipelopori oleh tiga tokoh yang memiliki visi yang sama dalam membangun budaya literasi, yaitu Abyz Wigati, Izzatul Jannah, dan Bahtiar HS. Ketiganya berkomitmen menghadirkan sebuah komunitas yang dapat menjadi tempat belajar, berdiskusi, dan berkarya bagi para penulis muda.

Sejak awal berdirinya, FLP Malang mengusung semangat untuk mengembangkan kemampuan menulis sekaligus menyebarkan nilai-nilai positif melalui karya. Komunitas ini diharapkan mampu menjadi wadah bagi para pegiat literasi untuk meningkatkan keterampilan kepenulisan, memperluas wawasan, serta membangun jaringan yang saling mendukung dalam dunia literasi.

Peran dan Kontribusi dalam Literasi

Dalam perjalanan lebih dari dua dekade, FLP Malang telah aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan yang mendukung perkembangan literasi di Kota Malang dan sekitarnya. Kegiatan tersebut meliputi pelatihan menulis, diskusi buku, bedah karya, seminar literasi, penerbitan karya anggota, hingga berbagai program pengabdian masyarakat berbasis literasi.

FLP Malang tidak hanya berfokus pada penulisan kreatif seperti cerpen, novel, dan puisi, tetapi juga memberikan ruang bagi pengembangan kemampuan menulis di bidang lain, seperti jurnalistik, esai, opini, dan kritik sastra. Melalui berbagai program tersebut, FLP Malang terus berupaya melahirkan penulis yang produktif, berintegritas, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Perjalanan Sekretariat FLP Malang

Perkembangan FLP Malang juga tercermin dari perjalanan sekretariat yang menjadi pusat aktivitas organisasi dari masa ke masa.

2000–2008

Pada masa awal berdiri, sekretariat FLP Malang beralamat di Terusan Ambarawa No. 52A, Malang. Tempat ini menjadi pusat kegiatan komunitas, mulai dari pertemuan rutin anggota, diskusi kepenulisan, hingga berbagai pelatihan dan workshop literasi.

2009–2013

Seiring berkembangnya organisasi, pada 26 Januari 2009 sekretariat dipindahkan ke Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang yang berlokasi di Jalan Ijen No. 30A, Malang. Keberadaan sekretariat di lingkungan perpustakaan memberikan peluang yang lebih besar bagi FLP Malang untuk berinteraksi dengan masyarakat luas dan memperkuat perannya dalam ekosistem literasi kota.

2015–2021

Pada tahun 2015, sekretariat kembali berpindah ke Perum Taman Embong Anyar 2 Blok H-11, Malang. Lokasi ini menjadi pusat koordinasi berbagai program organisasi sekaligus ruang berkumpul bagi para anggota.

2022-2025

Memasuki tahun 2022, sekretariat FLP Malang berpindah ke Rumah Baca Hakky yang berlokasi di Jalan Candi Panggung, Malang. Perpindahan ini semakin memperkuat sinergi antara komunitas literasi dan masyarakat melalui berbagai kegiatan edukatif dan pengembangan budaya baca.

2026–Sekarang

Setelah itu, markas kegiatan FLP Malang berpindah ke Perumahan BMW Insan Permata Malang Blok C2. Lokasi ini menjadi pusat aktivitas organisasi hingga saat ini dan mendukung pelaksanaan berbagai program literasi, pelatihan kepenulisan, serta kolaborasi dengan komunitas dan lembaga lain di Malang Raya.

Perjalanan perpindahan sekretariat tersebut menunjukkan dinamika dan perkembangan FLP Malang dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan organisasi, sekaligus menjadi bukti komitmen untuk terus hadir dan berkontribusi dalam penguatan budaya literasi di masyarakat.

Kepengurusan FLP Malang dari Masa ke Masa

Keberlangsungan FLP Malang tidak terlepas dari dedikasi para pengurus yang telah memimpin dan mengembangkan organisasi selama lebih dari dua dekade. Berikut daftar ketua FLP Malang dari masa ke masa:

PeriodeKetua
2002–2003Abyz Wigati
2003–2004Hanif Acep
2004–2005Dadang Kriswanto
2005–2008Kukuh Santoso
2008–2010Faris Khoirul Anam
2010–2013Fauziah Rachmawati
2013–2014Mahfuzh Huda
2014–2017Dyah Wulandari
2017–2019Gunung Mahendra
2019–2022Anna Ilham
2022–2024Enten Miwayani
2024–SekarangIntan K. L. Asror

Melalui estafet kepemimpinan yang berkelanjutan, FLP Malang terus tumbuh sebagai komunitas literasi yang aktif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Dengan semangat berkarya, belajar, dan berbagi, FLP Malang berkomitmen untuk terus menjadi rumah bagi para penulis serta penggerak literasi di Malang Raya.




Sabtu, 29 Juni 2024

Empat Unsur dalam Feature

Sumber Gambar: (Judit Peter/pexels.com)

Terkadang ketika membaca berita kita dibawa emosi. Kesal dengan kelakuan pelaku kejahatan. Geram dengan para pencuri. Atau bahkan menangis kasihan dengan kondisi hidup orang lain.

Di dalam non fiksi tulisan tersebut disebut feature (baca : ficer). Feature menggabungkan berita dengan opini. Di dalamnya mengandung human interest dan memiliki gaya penulisan yang bisa dikategorikan sebagai sastra.

Contohnya?

Kini Mobil Listrik Harus Berknalpot
Jalan-Jalan ke Sana'a
Peneliti Indonesia Kaya Raya 


 Ada opini atau pendapat yang dimasukkan ke dalam berita tersebut. Baik atas nama pribadi maupun organisasi, feature akan mengarahkan pembaca pada satu topik khusus. Maka dari itu sangat normal jika suatu feature penulisannya sangat subyektif. Penulis berusaha menghadirkan perspektif baru dalam sebuah kasus. Sehingga didapatkan cara pandang yang lebih luas. Namun mayoritas feature bertujuan sesuai dengan afiliasi penulis maupun komunitasnya. Misalkan saja FLP Malang diberikan berita tentang korupsi. Fokus utamanya bukan lagi bagaimana koruptor dihukum berat. Melainkan akan mengarah ke kepenulisan. Seperti bagaimana hubungan budaya korupsi dengan minat baca masyarakat.

Feature memiliki empat unsur, di antaranya adalah:

  1. Fakta atau berita lunak
    Ini merupakan unsur utama yang akan dibahas penulis. Kasus yang akan menjadi sorot utama. Di dalam mengambil berita tak bisa sembarangan sesuai keinginan penulis. Harus sesuai berdasarkan fakta yang ada.
  2. Opini atau pendapat dan perspektif penulis
    Dalam hal ini penulis bebas mengarahkan tulisannya. Di sini kita bisa mempermak fakta yang ada agar menguntungkan kita. Atau kata lainnya kita bisa mengambil sudut lain dalam sebuah permasalahan, dengan tambahan-tambahan opini atau perspektif penulis.
  3. Sastra
    Kenapa tulisan non fiksi harus menggunakan sastra? Menulis feature itu seperti kita menulis sebuah cerita namun berdasarkan fakta yang ada serta informatif. Sehingga sastra digunakan untuk menarik pembaca.
  4. Human Interest
    Untuk menghibur dan menggugah emosi pembaca. Ada bagian-bagian dalam berita yang lebih ditonjolkan, demi menyentuh sisi manusiawi pembaca. Maka dari itu feature lebih mengarah ke berita yang melalui perasaan daripada logika.
*Tulisan latepost, dan ditulis oleh muchtarps